Tuesday, May 29, 2012

Konfik Antar Pelajar/Mahasiswa

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sekarang tawuran tidak dilakukan oleh para preman yang terlibat konflik melainkan sekarang dilakukan oleh pelajar yang sudah membudaya dan turun temurun, tawuran antar pelajar biasanya diakukan oleh siswa-siswa yang kurang akan rasa tanggung jawab, mereka bergerak secara bergerombolan atau gank, yang bertujuan untuk memper erat solidaritas antara mereka, tapi solidaritas itu dalam hal yang tidak baik, mereka bergerombol nongkrong diluar sekolah disaat jam sekolah (bolos), mereka tidak bertanggng jawab dengan statusnya sebagai pelajar yang kewajibannya menuntun ilmu di sekolah.
Bukannya memenuhi kewajibannya ke sekolah tapi mereka malah melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat seperti merokok, maen play station dsb.
Diantara mereka awalya hanya berawal dari ikut-ikutan atau diajak temannya, kemudian timbul malas dan akhirnya sering membolos, semua kegiatan diluar sekolah yang tidak sepantasnya dilakukan oleh pelajar sudah biasanya merek lakukukan, kemudian timbul rasa bosen yang berlanjut mencari kegiatan yang lebih menentang dan menjurus bahaya, tawuran lah yang sekarang mereka perani.
B.    Rumusan Masalah
-    Banyaknya siswa/mahasiswa yang berfikir sangat labil tanpa memperhatikan dampaknya, sehingga banyak terjadi tawuran yang seharusnya tidak layak untuk dilakukan oleh siswa/mahasiswa.
-    Kurangnya kesadaran siswa/mahasiswa terhadap apa yang si lakukannya sebagai seorang yang terpelajar yang seharunya bisa memberikan contoh baik buat masyarakat di sekitarnya.
-    Banyaknya problematika pada pelajar/mahasiswa yang mengakibatkan terjadinya tawuran antar siswa/mahasiswa.


C.    Tujuan
-    Mengatisipasi terjadinya tawuran/konflik antar siswa/mahasiswa
-    Memberikan wawasan yang lebih luas lagi kepada siswa/mahasiswa supaya tidak berbuat anarki yang dapat menyebabkan tawuran/konflik.
-    Mencetak generasi penerus bangasa yang mawasdiri dan bertanggung jawab



 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian Konflik
Konflik adalah   Sikap saling mempertahankan diri sekurang-kurangnya diantara dua kelompok, yang memiliki tujuan dan pandangan berbeda, dalam upaya mencapai satu tujuan sehingga mereka berada dalam posisi oposisi, bukan kerjasama. Konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya ketegangan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antara kedua belah pihak, sampai kepada tahap di mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing masing. Penyelesaian efektif dari suatu konflik seringkali menuntut agar faktor-faktor penyebabnya diubah.

B.    Faktor Penyebab Tawuran/Konflik
Salah satu terjadi tawuran diantaranya berawal dari tragedi pemalakan, senggolan, yang kemudian salah satu dari mereka ada yang tidak terima (merasa dia paling kuat), salah paham, saling mengejek antar siswa sekolah yang berbeda, tawuran itu warisan dari tingkat di atas mereka, setelah itu terjadilah permusuhan, kemudian bergejolaklah amarah yang saling membara rasa ingin menjaga identitas sekolah mereka, berlanjut kemudian hari terjadilah sebuah perkelahian masal antar pelajar (tawuran).
Tawuran bisa terjadi karena kurangnya siswa dengan tanggung jawab mereka sebagai penerus bangsa, kurangnya kesadaran akan pendidikan, kurangnya pengawasan pihak sekolah dan perhatian orang tua, emosi siswa yang masih labil, dan kurangnya mutu iman mereka.
Kegiatan tersebut sangatlah berbahaya dan merugikan, bukan saja buat dirinya sendiri, tetapi buat masyarakat sekitar dan terlebih orang tuanya.
Menurut Shaw dan Constanzo, ruang lingkup studi psikologi sosial salah satunya adalah pengaruh sosial terhadap proses individual (Sartono, 2002). Yang termasuk dalam golongan ini adalah bagaimana kehadiran orang lain, keberadaan seseorang dalam kelompok tertentu atau norma-norma yang berlaku dalam suatu masyarakat mempengaruhi persepsi, motivasi, proses belajar, sikap (attitude), atau sifat (atribusi) seseorang. Terjadinya kerusuhan antar suporter yang sebagian besar merupakan remaja dan perkelahian antar pelajar di kota-kota besar seperti Jakarta belum tentu karena niat atau motif pribadi tetapi lebih pada pengaruh kelompok (sosial).

a.    Karakteristik Individual
•    Nilai sikap dan Kepercayaan (Values, Attitude, and Baliefs) atau Perasaan kita tentang apa yang benar dan apa yang salah, untuk bertindak positif maupun negatif terhadap suatu kejadian, dapat dengan mudah menjadi sumber terjadinya konflik.
•    Kebutuhan dan Kepribadian (Needs and Personality) Konflik muncul karena adanya perbedaan yang sangat besar antara kebutuhan dan kepribadian setiap orang, yang bahkan dapat berlanjut kepada perseteruan antar pribadi. Sering muncul kasus di mana orang-orang yang memiliki kebutuhan kekuasaan dan prestasi yang tinggi cenderung untuk tidak begitu suka bekerjasama dengan orang lain.
•    Perbedaan Persepsi (Perseptual Differences) Persepsi dan penilaian dapat menjadi penyebab terjadinya konflik. Misalnya saja, jika kita menganggap seseorang sebagai ancaman, kita dapat berubah menjadi defensif terhadap orang tersebut.
b.    Faktor Situasi
•    Kesempatan dan Kebutuhan Barinteraksi (Opportunity and Need to Interact) Kemungkinan terjadinya konflik akan sangat kecil jika orang-orang terpisah secara fisik dan jarang berinteraksi. Sejalan dengan meningkatnya assosiasi di antara pihak-pihak yang terlibat, semakin mengikat pula terjadinya konflik. Dalam bentuk interaksi yang aktif dan kompleks seperti pengambilan keputusan bersama (joint decision-making), potensi terjadinya koflik bahkan semakin meningkat.
•    Ketergantungan satu pihak kepada Pihak lain (Dependency of One Party to Another) Dalam kasus seperti ini, jika satu pihak gagal melaksanakan tugasnya, pihak yang lain juga terkena akibatnya, sehingga konflik lebih sering muncul.
•    Perbedaan Status (Status Differences) Apabila seseorang bertindak dalam cara-cara yang ”arogan” dengan statusnya, konflik dapat muncul. Sebagai contoh, dalam pengambilan keputusan, pihak yang berada dalam level atas organisasi merasa tidak perlu meminta pendapat para anggota tim yang ada.




BAB III
PEPBAHASAN
A.    Fenomena Tawuran Antar Pelajar / Mahasiswa
Tawuran sepertinya sudah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia. Sehingga jika mendengar kata tawuran, sepertinya masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi. Hampir setiap minggu, berita itu menghiasi media massa. Bukan hanya tawuran antar pelajar/mahasiswa saja yang menghiasi kolom-kolom media cetak, tetapi tawuran antar polisi dan tentara, antar polisi pamong praja dengan pedagang kaki lima, sungguh menyedihkan, inilah fenomena yang terjadi di masyarakat kita.
Tawuran antar pelajar maupun tawuran antar remaja semakin menjadi semenjak terciptanya gank-gank. Perilaku anarki selalu dipertontonkan di tengah-tengah masyarakat. Mereka itu sudah tidak merasa bahwa perbuatan itu sangat tidak terpuji dan bisa menggangu ketenangan masyarakat. Sebaliknya mereka merasa bangga jika masyarakat itu takut dengan gank/kelompoknya. Seorang pelajar seharunya tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti itu. Biasanya permusuhan antar sekolahan dimulai dari masalah yang sangat sepele. Namun remaja yang masih labil tingkat emosinya justru menanggapinya sebagai sebuah tantangan. Pemicu lain biasanya dendam dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi para siswa tersebut akan membalas perlakuan yang di sebabkan oleh siswa sekolah yang dianggap merugikan seorang siswa atau mencemarkan nama baik sekolah tersebut. Sebenarnya jika kita mau melihat lebih dalam lagi, salah satu akar permasalahannya adalah tingkat kesetresan siswa yang tinggi dan pemahaman agama yang masih rendah. Sebagaimana kita tahu bahwa materi pendidikan sekolah di Indonesia itu cukup berat. Akhirnya stress yang memuncak itu mereka tumpahkan dalam bentuk yang tidak terkendalikan yaitu tawuran. Dari aspek fisik, tawuran dapat menyebabkan kematian dan luka berat bagi para siswa/mahasiswa. Kerusakan yang parah pada kendaraan dan kaca gedung atau rumah yang terkena lemparan batu. Sedangkan aspek mentalnya, tawuran dapat menyebabkan trauma pada para siswa yang menjadi korban, merusak mental para generasi muda, dan menurunkan kualitas pendidikan di Indonesia. Setelah kita tahu akar permasalahannya, sekarang yang terpenting adalah bagaimana menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan ini. Dalam hal ini, seluruh lapisan masyarakat yaitu, orang tua, guru/sekolah dan pemerintah. Pendidikan yang paling dasar di mulai dari rumah. Orang tua sendiri harus aktif menjaga emosi anak. Pola mendidik juga brangkali perlu dirubah. Orang tua seharusnya tidak mendikte anak, tetapi memberi keteledanan. Tidak mengekang anak dalam beraktifitas yang positif. Menghindari kekerasan dalam rumah tangga sehingga tercipta suasana rumah yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang si anak menanamkan dasar-dasar agama pada proses penddikan. Tidak kalah penting adalah membatasi anak melihat kekerasan yang ditayangkan di televisi. Media ini memang paling jitu dalam dunia pendidikan. Orang tua harus pandai-pandai memilih tontonan yang positif sehingga bisa menjadi tuntunan buat anak. Untuk membatasi tontonan untuk usia remaja memang lumayan sulit bagi orang tua. Karena internetpun dapat di akses secara bebas dan orang tua tidak bisa membendung perkembangan sebuah teknologi filter yang baik buat anak adalah agama, dengan agama si anak bisa membentengi dirinya sendiri dari pengaruh buruk apapun dan dari manapun. Dan pendidikan anak tidak seharusnya diserahkan seratus persen pada sekolahan. Peranan sekolah juga sangat penting dalam penyelesaian masalah ini. Untuk meminimalkan tawuran antar pelajar, sekolahan harus menetapkanaturan tata tertib  yang lebih ketat, agar siswa/i tidak seenaknya keluyuran pada jam jam pelajaran di luar sekolah. Yang kedua peran BK (bimbingan konseling) harus di aktifkan dalam rangka pembinaan mental siswa, membantu menemukan solusi bagi siswa yang mempunyai masalah sehingga persoalan-persoalan siswa/mahasiswa yang tadinya dapat jadi pemicu sebuah tawuran dapat di cegah. Yang ketiga mengkondisikan suasana sekolah yang ramah dan penuh kasih sayang. Peran guru di sekolah semestinya tidak hanya mengajar tetapi menggantikan peran orang tua mereka. Yakni mendidik. Yang keempat penyedia fasilitas untuk menyakurkan energi siswa. Contohnya menyediakan program ektra kulikuler bagi siswa. Pada usia remaja energi mereka tinggi, sehingga perlu di salurkan lewat kegiatan yang positif sehingga tidak berubah menjadi agresivitas yang merugikan. Dalam penyeleggaraan kegiatan ekstrakulikuler ini sekolah membutuhkan prasaranan dan sarana, seperti arena olahraga dan perlengkapan kesenian, yang sejauh ini di banyak sekolah belum memadai, malah cenderung kurang. Oleh karenanya, pemerintah perlu mensubsidi lebih banyak lagi fasilitas olahraga dan seni. Dari segi hukum demikian juga. Pemerintah harus tegas dalam menerapkan sanksi hukum berikan efek jera pada siswa yang melakukan tawuran sehingga mereka akan berfikir seratus kali jika akan melakukan tawuran lagi. Karena bagaimanapun mereka adalah aset bangsa yang berharga dan harus terus dijaga untuk membangun bangsa ini. Perubahan sosial yang diakibatkan karena sering terjadinya tawuran, mengakibatkan norma-norma menjadi terabaikan. Selain itu, menyebabkan terjadinya perubahan pada aspek hubungan sosial masyarakatnya. Dalam buku yang berjudul Dinamika Masyarakat Indonesia, Prof. Dr. Awan Mutakin, dkk berpendapat bahwa sistem sosial yang stabil (equilibrium) dan berkesinambungan (kontinuitas) senantiasa terpelihara apabila terdapat adanya pengawasan melalui dua macam mekanisme sosial dalam bentuk sosialisasi dan pengawasan sosial (control sosial).
1.    Sosialisasi maksudnya adalah suatu proses dimana individu mulai menerima dan menyesuaikan diri kepada adat istiadat (norma) suatu kelompok yang ada dalam sistem sosial, sehingga lambat laun yang bersangkutan akan merasa menjadi bagian dari kelompok yang bersangkutan.
2.    Pengawasan sosial adalah proses yang direncanakan atau tidak direncanakan yang bertujuan untuk mengajak, mendidik atau bahkan memaksa warga masyarakat, agar mematuhi norma dan nilai. Pengertian tersebut di pertegas suatu pengadilan atau pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggotanga. (Soekarto, 1985:113)

B.    Upaya Mengantisipasi Tawuran Antar Pelajar
Dalam kasus ini guru BK yang harus berperan aktif dalam membenahi moral dan akhlak siswa, diberi penyuluhan agama, dan mengembangkan pola pikirnya kearah yang positif, supaya tawuran antar pelajar itu bisa dibenahi.
Untuk mengatasi masalah tawuran antar pelajar, menurut Kartini Kartono. Dia menyebutkan bahwa untuk mengatasi tawuran antar pelajar atau kenakalan remaja pada umumnya adalah:
a.    Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri, dan melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun
b.    Memberi kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat
c.    Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan pengembangan bakat dan potensi remaja.
Teori yang kedua adalah dari Dryfoos, dia menyebutkan untuk mengatasi tawuran pelajar atau kenakalan remaja pada umumnya harus diadakan program yang meliputi unsur-unsur berikut :
a.    Program harus lebih luas cakupannya daripada hanya sekedar berfokus pada kenakalan.
b.    Program harus memiliki komponen-komponen ganda, karena tidak ada satu pun komponen yang berdiri sendiri sebagai peluru ajaib yang dapat memerangi kenakalan.
c.    Program harus sudah dimulai sejak awal masa perkembangan anak untuk mencegah masalah belajar dan berperilaku
d.    Sekolah memainkan peranan penting
e.    Upaya-upaya harus diarahkan pada institusional daripada pada perubahan individual, yang menjadi titik berat adalah meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak yang kurang beruntung
f.    Memberi perhatian kepada individu secara intensif dan merancang program unik bagi setiap anak merupakan faktor yang penting dalam menangani anak-anak yang berisiko tinggi untuk menjadi nakal.
Manfaat yang didapatkan dari suatu program sering kali hilang saat program tersebut dihentikan, oleh karenanya perlu dikembangkan program yang sifatnya berkesinambungan.
Maraknya tingkah laku negatif akhir-akhir ini yang dilakukan kelompok pelajar merupakan sebuah hal yang menjurus bahaya. Perkelahian antar pelajar yang pada umumnya masih remaja sangat merugikan dan perlu upaya untuk mencari jalan keluar dari masalah ini atau setidaknya mengurangi dan guru BK harus ikut berperan dalam masalah ini . Perkembangan globalisasi mempunyai korelasi yang erat dengan meningkatnya perilaku negatif yang dilakukan oleh pelajar.

BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dalam upaya menanggulagi terjadinya tawuran/konflik  antar pelajar, di butuhkan penerapan tata tertib yang lebih ketat pada sekolah dan memberikan bimbinga khusus kepada pelajar yang bermasalah serta di ikutsertakan pengetahuan tentang agama sebagai benteng pada diri siswa/i tersebut.
Dan keikut sertaan orang tua dalam mendidik anak-anaknya itu sangat penting, jadi pendidikan tidak hanya di peroleh di sekolahan saja melainkan pihak keluarga, lingkungan, dan Negara juga mempengaruhi terhadapan pertumbuhan dan perkembangan diri siswa/i tersebut.
B.    Kritik dan Saran
Makalah ini saya susun sebagai pemenuhan tugas UAS Mata Kuliah Kewarganegaran semester genap ini, banyak hal yang munkin belum ada dalam pembahasan di makalah tentang mengupayakan tidak terjadinya tawuran/konflik antar pelajar. Maka dari pada itu saya menerima saran dan kritik dari semua pihak demi kebaikan saya dalam menyusun makalah pada tugas-tugas lainnya.
C.    Daftar Pustaka
-    http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/pdngertian-konflik-dan-definisinya-serta-faktor-penyebabnya/
-    http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/fenomena-tawuran-antar-pelajar
-    http://shareppba.wordpress.com/2009/11/16/budaya-tawuran-antar-pelajar-nurul-fahmi-mahasiswa-jurusan-ppb-a-0901577/
-    Santoso, U. 2008. ”Kiat-kiat Penulisan Artikel Ilmiah”. [online]. Tersedia: http://uripsantoso.wordpress.com [27 Oktober 2009]
-    Rukiyah, H. 2009. ”Tawuran Antar Pelajar”. [online]. Tersedia:http://hadirukiyah.blogspot.com [27 Oktober 2009]
-    Bayu, N. 2008. ”Fenomena Tawuran Antar Pelajar”. [online]. Tersedia: http://www.scribd.com [27 Oktober 2009]

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More